7 Makanan Jawa yang Ikut Terbawa ke Suriname

andrew   02 Agustus 2019 Food Story

Datang dengan kapal sebagai kuli perkebunan.

Suriname, Negara ini berada pada areal Amerika Selatan. Yang membuat dari negara ini unik adalah banyak ditinggali oleh orang – orang bersuku Jawa. Sekitar 70 persen orang Jawa di Suriname berasal dari Jawa Tengah, 20 persen dari Jawa Timur, dan 10 persen dari Jawa Barat. Mengapa Suriname banyak ditinggali oleh suku Jawa ?

Menurut sejarah orang-orang Jawa di datang ke Guyana Belanda yang kini bernama Suriname secara bergelombang sejak 1880an. Tentu saja karena dibawa Belanda dari Jawa. Sebagian besar dari mereka adalah kuli kontrak buta huruf yang tak punya pilihan. Akhirnya, mereka bekerja di perkebunan gula atau perkayuan. Selama kurun waktu 1890 hingga 1939, sebanyak 33 ribu orang Jawa dikapalkan ke Suriname sebagai calon kuli perkebunan. 


Membuka lahan dibelantara Amerika Selatan.

Mereka menggantikan kuli asal India yang dianggap banyak ulah. Orang-orang Jawa yang jauh dari tanah leluhur mereka itu kemudian beranak-pinak, dan tetap berkomunikasi dalam bahasa Jawa. Kebanyakan mereka beragama Islam seperti halnya kebanyakan orang-orang Jawa. Nama-nama Jawa pun masih mereka pakai, setidaknya sebagai nama belakang. Sebagian memakai nama depan ala Belanda atau Inggris.


Perkebunan tebu menjadi lahan pekerjaan utama.

Sempat Pulang Kampung

Hubungan dengan tanah leluhur pun mereka pelihara. Banyak orang Jawa di Suriname yang tidak bisa lupa tanah leluhurnya, Jawa. Di antara mereka, tak jarang ada keinginan berkunjung ke tanah Jawa. Beberapa dari mereka berhasil bertemu famili jauh mereka di Jawa. Sebagian lagi harus puas dengan menginjakkan kaki di tanah Jawa saja, karena hubungan komunikasi sudah lama terputus.

Setelah 1945, setelah Indonesia merdeka, banyak orang Jawa Suriname yang ingin pulang ke Jawa. Sebanyak 7 ribu orang sempat pulang ke Indonesia, namun pemerintah mengarahkan mereka ke Tongar, Sumatra Barat, karena Jawa sudah padat. Buruknya fasilitas hidup yang disediakan pemerintah di daerah tersebut membuat sebagian orang Jawa Suriname itu memilih kembali ke Suriname. Mereka datang untuk pulang ke Jawa, tapi malah ditransmigrasikan lagi.  Mereka menolak berulangnya sejarah, seperti terjadi pada leluhur mereka. Kembali ke Suriname yang masih Jawa, tentu lebih baik daripada tinggal di Indonesia tapi tidak di Jawa. Selain bahasa yang masih terkonservasi, buah budaya lain seperti makanan khas Jawa juga masih terjaga. berikut kuliner Suriname yang merupakan turunan dari Jawa. 


.

Bakabana - Pisang Goreng

Bakabana biasanya bisa ditemukan dalam menu snack. Harganya berkisar 2-3 euro per porsi. Setiap porsi berisi 2-3 potong pisang goreng besar, perbedaannya dengan cara penyajian di Indonesia adalah adanya opsi tambahan cocolan saus kacang.


.

Telo Terie - Singkong Goreng

Singkong atau telo yang biasa dikenal orang Jawa ternyata juga terbawa ke Suriname. Orang suriname lebih sering dipanggil dengan telo terie makanan ini menjadi snak. Makanan ini disajikan dengan menggunakan toping ikan teri goreng, disa dibalado terinya atau hanya goreng kering saja. Sebenarnya pilihan toping tidak hanya teri saja, bisa saja berupa saus kacang, akan tetapi toping ikan teri menjadi khas Suriname.


.

Pitjel – Pecel

Pitjel atau biasanya di Indonesia terkenal sebagai pecel ini menjadi menu pembuka di Suriname. Dengan harga sekitar 3-5 euro dan disajikan dalam piring kecil. Umumnya pecel di Suriname terdiri atas kacang panjang, toge dan kol rebus terus disiram dengan saus kacang. Tapi saus kacangnya tidak sama dengan yang ada di Indonesia.


.

Saoto – Soto

Penampilannya sama saja dengan rata-rata soto di daerah Jawa Tengah-Jogja karena orang jawa daerah inilah yang jadi pekerja ke Suriname bentuknya berupa soto ayam bening dengan tambahan toge, bihun, telur, keripik kentang dan nasi terpisah pada mangkok kecil.Harganya berkisar 5-7 Euro, sangat murah meriah untuk ukuran makan berat di Eropa. Untuk orang Suriname asli, mereka biasanya memakannya dengan tambahan Bakabana, khas orang-orang Afrika yang menjadikan pisang sebagai sandingan menu utama.


.

Nasi - Nasi Goreng

Penyebutan menu Nasi pada daftar menu di setiap rumah makan Suriname berarti berupa nasi goreng. Kalau hanya nasi putih akan disebut witte rijst. Nasi goreng biasanya sudah dipersiapkan dengan memasaknya dalam jumlah besar karena nasi goreng merupakan menu nasi favorit buat warga Suriname. Menu Nasi yang paling favorit adalah Nasi Met Moksie Metie, artinya Nasi Goreng dengan toping daging campur.Harganya berkisar di bawah 10 Euro kita sudah bisa memilih varian lauknya.


.

Roti

Nah kalau yang ini walaupun bukan langsung dari Indonesia akan tetapi menggunakan kata Roti untuk jenis menunya. Yang dimaksud Roti disini lebih seperti Roti Aceh, bulat dan datar. Begitupun untuk jenis menunya biasanya dipadukan dengan kentang dan buncis lalu disiram kuah kari, pilihan lauk tergantung selera. Menu Roti lebih merupakan turunan kuliner India.


.

Sambal

Masyarakat Suriname menyukai makanan dengan rasa pedas. Untuk tentang sambal perbedaan utamanya hanya dari basis cabai yang digunakan, kalau di Indonesia terkenal dengan cabai rawit dengan variannya. Di Belanda dan Suriname untuk cabai yang terkenal sebagai sambal adalah bernama Madame Jeanette. Paskalis andrew 


Artikel Terkait