Menu Lalapan Sunda Sudah Ada Sejak Abad ke- 9

Administrator   26 Juni 2019 Food Story

.

Lalap adalah sayur-sayuran yang biasa disajikan dalam masakan Indonesia. Namun yang kondang doyan makan lalapan adalah orang-orang Sunda. Lalap menyerupai salad, yang banyak dijumpai di makanan barat, walau begitu khas bagi lalap adalah bahwa sayur-sayur lalap tidak dimakan bersama saus (dressing) atau bumbu-bumbu. Lalap biasa dimakan bersama nasi dan lauk-pauk lainnya seperti ayam  goreng, ikan goreng, sambal, dan sebagainya.

 

Sayur-sayuran yang biasa digunakan antara lain seladakacang panjangtimuntomatdaun pepayadaun singkong, dan kemangi. Sayur-sayuran ini biasanya dihidangkan dalam keadaan mentah atau untuk sayur-sayuran seperti daun singkong dan daun pepaya sebelumnya direbus terlebih dahulu.


Karena terdiri dari banyak sayuran yang belum dimasak, lalap banyak mengandung serat yang baik bagi pencernaan. Lalapan banyak di jual di pedagang kaki lima sebagai bagian dari menu ayam goreng, lele goreng tahu tempe goreng dan disajikan dengan sambel terasi tomat. Lalapan yang akan dimakan mentah sebaiknya di cuci terlebih dahulu untuk menghilangkan residu pestisida yang ada, khususnya lalapan dari budidaya yang intensif.


Prasasti Taji menjelaskan aneka menu yang sudah dihidangkan sejak 901 Masehi

Bukti Prasasti

Budaya lalapan Sunda ternyata telah ada sejak abad ke-10 Masehi dan disebut dalam Prasasti Taji 901 Masehi, Sejarahwan  Fakultas Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran, Fadly Rahman menyatakan jika kebiasaan dan gemaran menyantap lalapan sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu.

 

"Menariknya, dalam Prasasti Taji  901 Masehi, disebut sebuah nama sajian atau makanan bernama 'Kuluban Sunda' yang artinya lalap," jelas  Fadly. Menurut Fadly, dengan mengkaji budaya dan sejarah lalapan sebagai upaya reidentifikasi sejauh mana kekhasan kuliner sunda Salam cerita dan citra cita rasanya.

Prasasti Taji 901 M sendiri  berisi hidangan yang disediakan untuk para undangan  hingga menghabiskan  57 karung beras, enam ekor kerbau, 100 ayam. Hidangan yang lain berupa aneka makanan yang diasinkan, daging asin yang dikeringkan, ikan gurame, bilunlun, telur dan rumahan. Untuk minuman disuguhkan berbagai macam tuak yang berasal dari jnu, bunga campaga, dan bunga pandan.

"Berbagai makanan itu terdapat pada peninggalan sumber-sumber tulisan seperti prasasti dan naskah di Jawa Tengah dan Jawa Timur sejak abad ke-10 menyebut-nyebut berbagai nama makanan yang hingga kini masih eksis," katanya.


Lalapan yang terus bertahan hingga saat ini..

Khas Sunda

Nama makanan itu antara lain sambel, pecel, pindang, rarawwan (rawon), rurujak (rujak), dan kurupuk, serta minuman seperti dawet, wajik dan dodol. "Kekhasan ini berhubungan erat dengan wacana pencitraan makanan melalui pengakuan budaya etniknya. Bila ditelusuri jejak kultur historisnya, pengakuan khas hidangan etnik tertentu dalam bisnis restoran akan menjadi basis citra cita rasa apa yang mesti dipertahankan," katanya.

Fadly menjelaskan kuliner Sunda saat ini sulit disebut kuliner Khas Sunda. Menurutnya, citra kuliner Sunda saat ini hanya bercitra pada lalap sayuran mentah seperti leunca, karedok, dan pencok kacang panjang, dengan lauk ikan air tawar seperti ikan mas goreng, pepes ikan mas dan pesmol gurame, dengan rasa pedas, gurih dan segar kualitas bahan makanannya juga kurang menyukai cita rasa manis. "Lalap dalam budaya dan kehidupan Sunda tidak hanya berwujud daun saja," imbuh Fadly

Pada kehidupan masyarakat Sunda tahun 30-an, lalap tidak hanya berwujud daun seperti daun singkong, pepaya, selada dan puluhan jenis daun lainnya. Tapi   lalap bisa berupa umbi seperti kunyit atau kencur, berupa buah muda seperti pepaya, mentimun, dan leunca, juga bunga seperti kenikir, honje atau combrang bahkan biji-bijian seperti biji nangka dan petai. Wisnu (berbagai sumber)


Artikel Terkait