Nasi Blawong, Mencicipi Kuliner Para Raja Jawa

Administrator   22 Mei 2019 Food Story

Sajian Nasi Blawong

 Sebagai makanan khusus bagi para raja, keistimewaan nasi blawong terus dijaga. Termasuk dalam penyajiannya yang menggunakan piring pusaka peninggalan Mataran yang bernama Kanjeng Kyai Blawong.

Salah satu pelestari dari kuliner istimewa ini adalah Gadri Resto Jogjakarta. Menu nasi ini sepintas tak ada yang istimema, seperti kebanyakan hidangan kuliner yang disajikan oleh resto pada umumnya. Sepintas aromanya sangat mirip dengan nasi uduk dengan aroma lauk yang sangat menggoda. Bedanya hanya pada warna dari nasi yang dihidangkan yang berwarna kemerahan.

Tapi jangan anggap remeh nasi ini, sebab nasi blawong adalah menu special yang hanya dihidangkan untuk para raja pada masanya. Karena termasuk dalam menu royal family, tentu saja resepnya tidak boleh keluar dari keraton atau istana. Hanya Gadri resto yang diberi ijin untuk menyajika hidangan ini khalayak umum, itupun sifatnya sangat terbatas.

Kebetulan pemilik resto, BRAy Hj Nuraida Joyokusumo adalah salah satu menantu kesayanan dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Karenan kedekatan ini ini, BRAy Nuraida mendapatkan akses untuk mengetahui resep-resep rahasia keraton secara lengkap.  Dan salah satu yang ia pelajari adalah nasi blawong ini.


Tradisi Keraton yang Tetap Terjaga

Tidak Setiap Saat

Nasi Blawong dipandang paling istimewa karena menu ini hanya disajikan pada acara khusus dan hari-hari tertentu. Uniknya, aturan ini juga berlaku bagi Raja dan keluarganya. Artinya meski raja, tapi beliau tidak dapat menikmati nasi ini setiap saat.

Selain sebagai menu hidangan, nasi blawong ini juga di pandang sebagai media ritual bagi para sultan. Nasi blawong diyakini terkjait dengan daya kawijayan yang membuat raja atau sultan yang menikmatinya akan senantiasa memiliki kejayaan dalam masa pemerintahannya dan kepemimpinannya.

Nasi blawong biasanya hanya disajikan pada saat peringatan hari kelahiran raja yang juga harus diikuti oleh serangkaian ritual yang panjang.  Ritual ini  bersifat pribadi, karena sebagai wujud rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa. Karena itu, prosesi yang dilakukannya pun, terbilang rumit. Sultan atau raja biasanya akan menjalankan puasa serta melakukan meditasi sehari sebelumnya. Dan, nasi blawong akan disajikan sebagai menu buka puasa, serta disantap bersama anggota keluarga keraton. 

Ada keyakinan, barang siapa yang mencicipi nasi blawong, maka hidupnya akan dinaungi kelimpahan berkah. Karena itu juga, para abdi dalam akan berusaha meski harus berebutan untuk mendapatkan sisa-sisa nasi itu, tiap kali syukuran selesai. 


Suasana Tempo Dulu

Piring Khusus

Karena sifatnya yang sacral ini, meski sudah dikenalkan pada masyarakat umum, namun disajikan dalam jumlah yang sangat terbatas  “Resep nasi ini memang tetap dijaga kerahasiaannya. Tujuannya tentu untuk menjaga eksklusifitasnya sebagai makanan khusus para raja,” tambah istri GPH Joyokusumo ini.

Nama Blawong  Dan salah satu perbedaannya adalah pada piring yang digunakan dalam penyajiannya. Piring khusus ini bernama  Kanjeng Kyai Blawong,   Hal ini menunjukkan kalau raja memang memberikan pandangan yang istimewa pada benda ini, sebagaimana benda-benda lain yang menjadi pusaka keraton. Karena piring ini memang hanya dipakai untuk menyajikan nasi blawong, bukan yang lain. 

Kanjeng Kyai Blawong memang tidak dipakai dalam penyajian nasi ini di Gadri Resto. Karena jelas tidak mungkin menggunakan salah satu pusaka itu, untuk hal-hal yang bukan semestinya. Sebab, hanya raja saja yang memiliki hak dan wewenang, menggunakan benda-benda berstatus pusaka milik keraton, termasuk Kanjeng Kyai Blawong.

Sejak awal saya memang memiliki tujuan untuk melestarikan warisan kuliner nusantara, terutama keraton. Dan itu saya wujudkan dengan menyajikan menu-menu khas keraton, yang tidak bisa ditemui di restoran lain,” pungkas ibu tiga orang anak ini. // Wisnu


Keraton Jogjakarta Hadiningrat


Artikel Terkait