Roti Buaya, Simbol Kesetiaan Masyarakat Betawi

admin   18 Juli 2019 Food Story

.

“Buaya” mungkin memiliki konotasi negatif. Buaya seringkali dihubungkan dengan pada hal yang buruk yaitu 'buaya darat,' simbol tidak setia. Lantas, bagaimana mungkin roti dengan nama buaya bisa hadir dalam sebuah acara pernikahan adat Betawi. Sebelum berburuk sangka sebaiknya pahami makna filosofis dari roti buaya ini. Roti yang selalu dihadirkan dalam pernikahan Adat Betawi.

Padahal buaya termasuk hewan yang setia, karena buaya hanya kawin dengan satu pasangan saja. Maka tidak heran jika buaya disimbolkan sebagai kesetiaan pada roti buaya dalam pernikahan adat Betawi. Selain itu roti buaya juga melambangkan kesabaran dan kestabilan ekonomi.

Dalam pelaksanaan lamaran atau pernikahan Betawi,   mempelai pria membawakan roti berbentuk buaya ke rumah mempelai wanita. Menurut masyarakat Betawi, makna roti buaya dalam tradisi betawi membawa pesan bahwa masyarakat Jakarta tidak boleh lupa bahwa dahulu mereka tinggal di sekitar bantaran sungai. 


Lambang Kejantanan

Jakarta memiliki 13 sungai yang menyebar di sepanjang ibukota. Dikatakan awalnya banyak bermunculan buaya di sungai-sungai tersebut. Sehingga masyarakat Betawi sering menjumpai buaya di sekitar sungai. Dan mengambil buaya sebagai simbol dari kesetian

Buaya juga dilambangkan sebagai hewan suci dan merupakan lambang dari kesabaran. Nilai kesabaran tersebut diambil berdasarkan perilaku buaya yang selalu sabar dalam mengintai saat memburu mangsanya hingga lengah. Di satu sisi ada pula yang menilai roti buaya sebagai sebuah lambang kejantanan seseorang.

Tradisi pernikahan adat Betawi, roti buaya harus selalu dalam kondisi mulus dan sama sekali tidak boleh rusak hingga sampai ke tangan mempelai wanitanya. Ukuran roti buaya juga dipercaya berkaitan dengan nasib rumah tangga pengantin tersebut. Semakin keras dan semakin besar roti buaya, maka itu akan semakin baik untuk masa depan kedua pasangan yang menikah.

Biasanya setelah selesai upacara pernikahan, roti buaya ini akan dibagi-bagi dan dimakan oleh para tamu. Masyarakat Betawi percaya siapapun yang memakan roti buaya tersebut akan lebih mudah mendapatkan jodoh di kemudian hari.

Hingga saat ini tradisi pernikahan menggunakan roti buaya masih terus berlanjut hingga saat ini. Tak hanya roti buaya yang menjadi syarat masyarakat betawi untuk menikah, melainkan tradisi palang pintu juga menjadi sebuah simbol budaya sakral pernikahan adat betawi.


.

Sejarah Roti Buaya

Kehadiran roti buaya dalam pernikahan adat betawi dipengaruhi oleh datangnya bangsa Eropa ke Indonesia. Karena pada bangsa Eropa datang ke indonesia, bangsa Eropa memberi bunga kepada orang yang dicintai, maka orang Betawi menganggap perlu ada simbol lain untuk menyatakan cinta. Maka dipilihlah roti dengan bentuk buaya inilah sebagai simbol dari cinta.

Bentuk buaya dipilih karena perilaku buaya yang hanya kawin sekali sepanjang hidupnya. Dan masyarakat Betawi meyakini hal itu. Roti Buaya ini dibuat sepasang, yang betina ditandai dengan roti buaya kecil yg diletakan di atas punggungnya atau di samping. Maknanya adalah kesetiaan berumah tangga sampai beranak cucu.

Awal dibuatnya roti buaya memiliki tekstur yang keras dan sengaja dibiarkan sampai membusuk. Hal ini menyimbolkan bahwa pasangan yang menikah langgeng hingga akhir hayat. Namun seiring dengan perubahan zaman, roti buaya dibuat dengan tekstur lebih lembut sehingga dapat dimakan. Roti buaya pun dibagi-bagi kepada kerabat yang belum menikah dengan harapan dapat segera menyusul untuk menikah. -PASKALIS ANDREW - 


Artikel Terkait