Kembali ke Article

Angkringan Jogja, dari Kisah Perantau Klaten hingga Menjadi Favorit Didi Kempot

Angkringan Jogja, dari Kisah Perantau Klaten hingga Menjadi Favorit Didi Kempot Foto: balytra.com
05 May/2020

2020 menjadi tahun yang sangat kelam bagi dunia musik Indonesia. Setelah kabar duka meninggalnya Glenn Fredly di Bulan April, sang legendaris campursari Didi Kempot menyusul meninggalkan dunia ini. Didi Kempot yang terkenal lewat lagu-lagu galaunya hingga memiliki julukan The Godfather of Brokenheart meninggal pada Selasa pagi (5/5). Kepergiannya yang mendadak menyisakan banyak kesedihan di hati para eluarga, kerabat, dan tentunya Sobat Ambyar, sebutan untuk penggemar fanatik Didi Kempot. Tak hanya kesedihan, kenangan tentang Almarhum tentu saja masih membekas di hati para penggemar.

 

Karakter Didi Kempot yang bersahaja dan sederhana memang sangat melekat dalam dirinya. Kesederhanaannya itu salah satunya tercermin dari makanan kegemarannya, yakni nasi kucing. Didi Kempot memang sangat menyukai nasi kucing dan makan di wedangan atau angkringan langganannya. Sama seperti warga Solo lainnya, Didi Kempot bahkan memiliki beberapa angkringan favorit yang menyajikan nasi kucing dengan begitu lezat. Namun, apakah kamu pernah bertanya-tanya tentang asal muasal angkringan yang menjadi primadona di hati warga Jogja, Solo, dan sekitarnya ini? Makanabis telah menguliknya khusus untukmu.

Foto: hipwee.com
Foto: hipwee.com

Angkringan adalah sebuah warung yang menjajakan nasi kucing, sate usus, gorengan, dan makanan kampung lainnya. Ciri khas yang membedakan angkringan dengan warung lain adalah adanya gerobak yang dilengkapi dengan bangku-bangku panjang sehingga pengunjung bisa makan sambil nangkring atau nongkrong di tempat itu. Angkringan biasanya buka pada sore hingga dini hari. Namun karena kepopulerannya, banyak juga ditemukan yang beroperasi di siang hari. Harganya yang sangat murah dan menjadi tempat yang hangat untuk bersosialisasi dengan kerabat memang menjadikan angkringan memiliki keunggulannya tersendiri.

Berbeda dengan gaya angkringan yang dikenal saat ini. Dulunya, angkringan adalah warung makan keliling. Saat tahun 1950-an, seorang pria paruh baya bernama Mbah Pairo dari Cawas, Klaten merantau ke Kota Yogyakarta karena desa tempat ia berasal memiliki tanah yang tandus sehingga tidak bisa digunakan sebagai tempat bercocok tanam. Di kota, Mbah Pairo berjualan makanan dengan alat pikul dan berkeliling di sekitar stasiun tugu. Untuk menarik pembeli, Mbah Pairo biasanya berteriak “Ting..Ting..Hik”, seketika pelanggan akan tahu bahwa suara itu adalah suara Mbah Pairo dan dagangannya. Tak jelas maksud dari kata-kata tersebut, namun dari situlah nama HIK (Hidangan Istimewa Kampung) menjadi nama lain dari angkringan.  

Foto: jogjaupdate.com
Foto: jogjaupdate.com

Karena kelezatan dan harga yang dipatok sebanding, dagangan Mbah Pairo laris manis sehingga ia memutuskan untuk tidak berjualan keliling lagi. Akhirnya, Mbah Pairo memilih menjual dagangannya di gerobak yang dilengkapi dengan bangku-bangku panjang untuk menambah kenyamanan pelanggan saat makan di warungnya. Dengan adanya bangku panjang dan gerobak, pelanggan biasanya menaikkan satu kakinya atau biasa disebut metangkring/nangkring  dalam Bahasa Jawa saat menyantap makanan sambil bercengkrama dengan teman. Dari situlah, tercipta nama angkringan untuk warung sejenis yang saat ini menjadi favorit banyak orang, bahkan sang legenda Didi Kempot. Inas Rifqia

Article Lainnya


Ribut dengan Chef Arnold, Ini Masakan Ekstrem Bobon Santoso

Ribut dengan Chef Arnold, Ini Masakan Ekstrem Bobon Santoso

Bagi penggemar kuliner ekstrem, pasti sudah tak asing lagi dengan Youtuber Bobon Santoso. Namanya ba...

Jangan Menyerah!!! Bahan Dapur ini Bikin Gigi Putih dalam 5 Menit Saja

Jangan Menyerah!!! Bahan Dapur ini Bikin Gigi Putih dalam 5 Menit Saja

Memiliki gigi kuning merupakan masalah yang umum saat ini, terutama pada orang yang berusia diatas 3...

Ingin Lingkar Pinggang Ramping? Ini Solusinya!!!!

Ingin Lingkar Pinggang Ramping? Ini Solusinya!!!!

Membakar lemak yang menumpuk di tubuh adalah salah satu hal tersulit dalam hidup ini. Namun, beberap...

Selat Solo, Steak Lokal Gabungan Dua Budaya

Selat Solo, Steak Lokal Gabungan Dua Budaya

Sama seperti seluruh daerah di Indonesia, Solo juga memiliki makanan khas yang beragam. Tak hanya se...

JELAJAH