Kembali ke Article

Lumpia Legendaris Semarang, Perpaduan Budaya dan Cinta dalam Kelezatan

09 Apr 2020 Selera Nusantara
Lumpia Legendaris Semarang, Perpaduan Budaya dan Cinta dalam Kelezatan Perpaduan kelezatan dan cinta, foto: HK
09 Apr/2020

 

Bila ke Semarang, jangan lupa menyicipi kuliner khas kota ini, lumpia. Tidak harus ke Semarang memang bila sekadar ingin merasakan kelezatannya. Di berbagai kota pun, makanan ini mudah didapat, termasuk yang ditambahi embel-embel ‘asli Semarang’.

 

Namun lumpia yang benar-benar asli Semarang, tentu mempunyai kelezatan berbeda. Terutama yang namanya sudah melegenda, seperti lumpia gang lombok.

 

“Di sini rasanya sepesial. Lebih enak dan gurih,” kata Leni, salah seorang penggemar lumpia kepada makanabis saat sedang menikmati lumpia gang lombok.

 

Pembeli lain mengatakan, lumpia Gang Lombok memiliki keistimewaan pada racikan rebungnya yang tidak berbau, serta campuran telur dan udangnya tidak amis.

 

Keistimewaan lumpia gang lombok sejatinya berasal dari aroma ikan pihi di minyak gorengnya. Selain rebung, udang, dan telur, ikan pihi juga menjadi isian lumpia ini. Ikan pihi menjadi resep dan ciri khasnya sejak mula makanan ini diciptakan.

 

Pelanggan setia lumpia legendari Semarang, foto: HK
Pelanggan setia lumpia legendari Semarang, foto: HK

 

Karena kelezatannya, lumpia Semarang disukai dan dikenal banyak orang. Sebuah buku panduan wisata terbitan Prancis bahkan memuat lumpia gang lombok beserta alamat kiosnya. Kalangan pejabat dan orang penting negeri ini juga pernah menikmatinya.

 

“Gus Dur dan keluarga Cendana juga pernah ke sini,” kata Siem Swie Kiem kepada wartawan media ini beberapa waktu lalu.

 

Nama Gang Lombok sendiri diambil dari tempat menjajakannnya, Gang Lombok 11, yang terletak di kawasan Pecinan Semarang. Kiosnya sangat kecil, hanya berukuran sekitar 5 X 5 meter, tepat di sebelah kiri Kelenteng Tay Kak Sie.

 

Setiap hari lumpia Gang Lombok tak pernah sepi pembeli. Kios buka mulai pukul 09.00 sampai 17.00. Saking larisnya, seringkali kios tutup lebih awal. Padahal dibanding lumpia lain, harganya jauh lebih mahal.

 

Lumpia Semarang memiliki riwayat semenarik cita rasanya. Makanan yang sudah menyebar hampir di semua kota di Indonesia ini, berlatar kisah cinta sepasang anak manusia dari etnik Tionghoa dan Jawa.

 

Resep turun temurun yang tetap lestari, foto: HK
Resep turun temurun yang tetap lestari, foto: HK

Sekitar pertengahan abad ke-19, seorang Tionghoa bernama Tjoa Thay Joe datang dari Fujian, Tiongkok, dan menetap di Semarang. Di kota ini, Thay Joe menyambung hidup dengan membuat dan menjual sejenis makanan khas kota kelahirannya.

 

Di Semarang, telah ada Mbok Wasih yang berjualan makanan menyerupai makanan buatan Thay Joe, hanya beda isi. Makanan yang dibuat Mbok Wasih berisi udang dan kentang, sedangkan jualan Thay Joe berisi daging babi dan rebung.

 

Awalnya mereka bersaing, namun kemudian saling jatuh cinta dan menikah. Pernikahan tersebut juga memadukan dua macam makanan buatan mereka.

 

Makanan perpaduan itu yang kemudian dikenal sebagai lumpia Semarang. Isinya tidak lagi daging babi atau kentang, melainkan ikan pihi dicampur udang dan rebung.

 

Nama lumpia sendiri berasal dari kata Olympia Park, sebuah pasar malam yang diadakan Belanda. Tempat Thay Joe dan Wasih biasa berjualan. Nama lumpia tercipta karena lidah setempat yang kesulitan melafalkan kata olympia.

Pelanggan setia lumpia gang Lombok, foto: HK
Pelanggan setia lumpia gang Lombok, foto: HK

 

Usaha lumpia kemudian diteruskan Siem Gwan Sing dan Tjoa Po Nio, menantu dan putri tunggal Thay Joe - Wasih. Mereka membuka kios di Gang Lombok. Ketika keduanya meninggal, usaha diteruskan anak-anak mereka; Siem Swie Hie, Siem Hwa Nio, dan Siem Swie Kiem.

 

Siem Swie Kiem tetap menempati kios di Gang Lombok. Karena sudah sangat lama berdiri di sana, gang ini identik dengan lumpia Semarang. Hak paten nama lumpia Gang Lombok pun digenggam Siem Swie Kiem.

 

Sedangkan usaha lumpia Siem Swie Hie dilanjutkan oleh putrinya, Siem Siok Lien alias Mbak Lien. Generasi keempat lumpia Semarang ini membuka kios di Jalan Pemuda dan Jalan Pandanaran. Sementara keturunan Siem Hwa Nio membuka kios di Jalan Mataram.

 

Selain 3 aliran yang berasal dari keturunan Tjoa Thay Yoe–Wasih, ada 2 lagi aliran lumpia di Semarang. Lumpia yang dibuat oleh sejumlah bekas pegawai lumpia Jalan Pemuda dan yang dikelola oleh orang-orang dengan latar belakang hobi kuliner. Heru K

 

Article Lainnya


Ingin Rambut Cepat Panjang? Pakai Masker Seledri

Ingin Rambut Cepat Panjang? Pakai Masker Seledri

Rambut panjang yang tebal, halus, dan sehat adalah dambaan banyak wanita. Namun, berbagai permasalah...

Rahasia Bumbu Ungkep Ala Penyetan

Rahasia Bumbu Ungkep Ala Penyetan

Menikmati daging ayam, bebek, tempe, maupun ikan ala ‘penyetan’ dengan sambal super peda...

Gurih Mie Lendir Khas Kepulauan Riau

Gurih Mie Lendir Khas Kepulauan Riau

Saat berkunjung ke Tanjungpinang, Kepulauan Riau, tidak afdhol rasanya jika tidak mencicipi mie lend...

Poffertjes, Cemilan Peninggalan Para Meneer

Poffertjes, Cemilan Peninggalan Para Meneer

Poffertjes suguhan tradisional Belanda. Serupa dengan pancake kecil dan lembut, mereka dibuat ...

JELAJAH