Kembali ke Article

Teko, Piring & Mug Blirik, Riwayatmu Dulu

23 Nov 2020 Food Story Ragam
Teko, Piring & Mug Blirik, Riwayatmu Dulu foto : lazada
23 Nov/2020

Mungkin sudah tidak banyak lagi yang menggunakan cangkir atau mug enamel dengan twotone color ini. Bercorak gelas loreng hijau putih, biru putih, dan masih banyak dwi warna lainnya. Tapi zaman kakek nenek dulu, mug dan cangkir ini sangat fenomenal.

Kaum milenial saat ini bisa menikmati alat ngopi dan negeteh ini di resto-resto yang berkonsep retro. Namun dibeberapa daerah pelosok, mug blirik ini masih banyak beredar.

 

Makanabis tertarik mengulik Mug, teko, dan piring blirik yang memiliki sejarah yang sangat panjang di Indonesia. Dimulai dari sebuah simbol ‘’kejayaan’’ kolonialisme HIndia Belanda, lalu menjadi bentuk perlawanan petani, sampai kini justru menjadi ikon dan barang antik yang mulai jarang ditemui.

Presiden Jokowi masih setia gunakan blirik, foto : tribunnews
Presiden Jokowi masih setia gunakan blirik, foto : tribunnews

Alat makan dan minum ini diperkirakan sudah ada di Nusantara setelah berakhir perang Jawa tepatnya  sejak 1830. Kemenangan Belanda atas Pangeran Diponegoro, membuat pasukan kolonial Belanda konon menjadi jemawa. Dan sebagai bentuk kebanggan mereka, orang-orang Belanda menggunakan teko dan gelas blirik pada saat jamuan makan atau minum kala itu.

Adalah Jan Mooijen, seorang Belanda kelahiran Belgia yang menjadi agen tunggal teko dan mug blirik di Jawa dan Nusantara. Ia membuka agen penjualan teko blirik pertamanya pada 1845. Sejak saat itu penjualan teko blirik mulai menyebar di tanah Jawa.

 

Namun kemudian trend ini berubah seiring dengan banyaknya orang yang mulai memiliki barang mewah kala itu. Orang-orang Belanda mulai enggan menggunakan peralatan blirik ini karena banyaknya orang-orang pribumi yang mulai terbiasa menggunakan peralatan ini. 

foto : jayakartanews
foto : jayakartanews

Jadi Simbol Perjuangan Petani

 

Lama berada dalam penindasan kolonial,  para buruh tani menjadikan mug blirik  simbol perjuangan.  Alat makan dan minum  Penggunaan teko blirik tidak hanya ditemukan dikalangan buruh, melainkan orang-orang yang turut membela kaum buruh tani pun turut ikut menggunakan teko blirik.

 

Soe Hok Gie dalam skripsi yang kemudian menjadi buku berjudul Di Bawah Lentera Merah, mencatat  pada 1921. Semarang menjadi kota tolok ukur pergerakan politik Indonesia.  Alat makan minum blirik dan  topi caping menjadi simbol perjuangan petani, buruh, dan nelayan. Popularitas blirik langsung meroket. Siapapun yang menggunakan blirik dianggap  turut membela dan menunjukkan keberpihakan serta kepedulian kepada masyarakat kaum buruh. 

Tidak berlebihan jika blirik ini memiliki banyak penggemar. Kualitasnya  yang bagus, terbuat dari seng dan lapisan enamel, blirik terkenal awet dan tahan karat meskipun terkena panas. Hingga 1960-an, keberadaan blirik masih menjadi primadona dan ikon sarat makna meski harus bersaing dengan bahan dari kaca. Namun seiring dengan masuk produk-produk murah berbahan plastik pada 1990-an, keberadaan blirik sudah mulai jarang ditemui.

 

Piring, teko dan mug blirik ini kemudian beralih fungsi menjadi pajangan dan koleksi. Motif lurik ini menjadi daya tarik karena eksotis dan estetik. Tapi beberapa cafe besar  justru menyajikan kopinya menggunakan gelas blirik untuk memberi kesan unik, retro  dan estetik. bbs

Article Lainnya


Ingin Sehat? Konsumsi Jahe Merah

Ingin Sehat? Konsumsi Jahe Merah

Jahe memiliki nama latin Zingiber officinale varietas Rubrum. Berbeda dengan jahe pada umumnya...

Hangatkan Malam Natal dengan Gluhwein

Hangatkan Malam Natal dengan Gluhwein

Perayaan Natal akan lebih hangat jika dirayakan bersama keluarga. Tak lupa beserta sajian berupa mak...

Sambut Natal dengan Kue Lapet Khas Batak

Sambut Natal dengan Kue Lapet Khas Batak

Saat Natal tiba, berkumpul bersama keluarga adaah momen yang tak boleh dilewatkan. Sambil bercengkra...

Rahasia Kuliner Korsel Jadi Icon Dunia

Rahasia Kuliner Korsel Jadi Icon Dunia

Akibat dari demam Korea atau Korean wave, sangat mudah bagi kita menemukan makanan khas Korea Selata...

JELAJAH